December 25, 2012

Mengetuk Pintu Hati

Entri kali ini berisi sebuah kisah yang sangat pribadi bagi saya, tapi saya tahu setiap orang juga pernah mengalami hal yang sama. Bila Anda membacanya sambil ditemani oleh lagu mellow favorit Anda, saya jamin akan terasa lebih nikmat. Saya sambil ditemani lagu Shandy Putra - The Untold Love Story dan Richard Clayderman - Love Story. Let’s get mellow!

******

Setiap hari aku pulang dan pergi pergi melewati jalanan rusak berbatu dengan banyak pohon rindang di pinggirannya. Di deretan jalan tersebut ada sebuah rumah kecil mungil dengan jendela bundar dan cerobong asap, persis seperti rumah dalam sebuah cerita dongeng. Itu rumah kamu.
Tahukah kamu… setiap hari aku berjalan lewati rumahmu. Begitu seringnya, aku sampai ingat persis warna coklat kusam pintu rumahmu dan dindingnya yang keabuan. Kulakukan itu tanpa sengaja dan tanpa rencana. Mau tidak mau, toh aku memang harus lewat jalanan rusak di depan rumahmu itu.
Setiap hari pula tidak bisa kuhindari melihat dirimu dibalik jendela. Beberapa kali kulihat kamu sedang sibuk menulis sesuatu atau membaca buku. Terkadang aku melihatmu membersihkan rumah sambil memutar lagu keras-keras. Tapi, aku paling sering melihatmu sedang duduk termenung dalam sepi seorang diri.
Tahukah kamu… setiap kali aku melihatmu, hatiku bertanya, “Siapa dia?” Ingin rasanya aku mengenalmu dan rasa itu sangat mengganggu sekali.
Dan akhirnya, malam itu kuberanikan diriku untuk singgah dan mengetuk pintu rumahmu. Jantungku berdegup kencang sewaktu kamu membuka pintu. Wajahmu yang manis mengintip dari balik celah pintu yang terkait oleh grendel kunci rantai.
“Siapa yah?”, kamu bertanya. Pertama kalinya aku mendengar suaramu. Dan jujur, suaramu yang sedikit parau bersirat sendu sama sekali tidak seperti yang kuduga. Tapi matamu… Matamu yang berkilau seperti danau di malam hari memantulkan cahaya bintang di kejauhan, itu persis seperti yang selama ini ada dalam bayanganku tentang dirimu.
Kuperkenalkan diriku dan kita berbincang cukup lama. Kita hanya berbicara lewat celah pintu yang sedikit terbuka, terkait oleh grendel kunci rantai. Kamu tidak mempersilakan aku masuk. Tidak apa-apa, aku maklum… kan aku masih orang asing dan kita baru bertemu pertama kali. Sudah bisa berbicara denganmu saja aku sudah senang sekali.
Tahukah kamu… ketika aku pamit malam itu, aku berjanji dalam hati untuk singgah lagi esok malamnya dan esok malamnya lagi, dan malam setelahnya, dan setelahnya lagi, dan seterusnya…
Dan memang itu yang kulakukan.
Malam demi malam aku selalu singgah dan mengetuk pintu rumahmu. Kamu pun selalu menyambut aku dengan senyum manis, dan kebahagiaan terpancar berkilau dari sinar temaram matamu… tapi kamu tidak pernah mempersilakan aku masuk.
Aku duduk di undakan tangga di luar rumah dan bersender pada pintu, kamupun duduk di lantai kayu dalam rumahmu dan bersender di sisi sebaliknya. Aku sungguh menikmati setiap kata yang keluar dari bibirku dan bibirmu, dan aku tahu kamu juga begitu.
Meskipun kita hanya berbicara lewat celah pintu yang sedikit terbuka, terkait oleh grendel kunci rantai.
Tapi tidak apa-apa, itu saja sudah cukup. Aku hanya ingin mengenalmu.
Setiap malam, kita saling bertukar tawa. Mentertawakan dunia dan diri kita masing-masing. Kamu bilang kamu jarang tertawa lepas seperti itu, dan tahukah kamu… tawamu timbulkan rasa hangat yang meresap dalam diriku. Rasa hangat yang sudah lama tidak kurasakan.
Dan kita saling bertukar cerita. Tentang mimpi-mimpimu, tentang kehidupan, tentang dunia, tentang cinta, dan tentang dirimu. Saling bertukar kisah hingga pagi menjelang dan matahari mengintip di balik cakrawala, perlahan buyarkan hitamnya malam dan menggantinya dengan fajar yang ungu kebiruan.
“Selamat tidur yah..”, katamu ketika aku pamit. Aku pulang dan tidur dengan tersenyum. Hari ini aku sudah mengenal dirimu lebih dari kemarin. Dan aku tahu kamu juga tidur dengan tersenyum pagi itu.
Malam esoknya, akhirnya, kamu memutuskan untuk bercerita tentang kesendirianmu, tentang malam-malam sepimu, tentang hilangnya asa dari dirimu… tentang alasan kamu mengurung diri dalam rumah, dan mengapa kamu tidak mau membukakan pintu untuk siapapun.
Aku senang kamu mempercayaiku. Meskipun kita hanya berbicara lewat celah pintu yang sedikit terbuka, terkait oleh grendel kunci rantai.
Kamu bercerita tentang masa lalumu dan ketakutanmu. Terakhir kali kamu membuka pintu dan mengijinkan seseorang masuk dalam rumahmu, ia menghancurkan seisi rumahmu, merampas segala yang berharga dari dirimu, dan setelah itu meninggalkanmu tersungkur menangis di lantai rumahmu yang telah porak poranda.
Dengan segala jerih payah dan air mata, selama enam musim, akhirnya kamu berhasil membenahi rumahmu, menyusun ulang perabotan, dan membuatnya terlihat lebih indah dari sebelumnya. Tapi kamu tahu, berkas-berkas kerusakan tidak akan pernah bisa hilang, dan rumah kamu selamanya tidak akan pernah kembali seperti semula.
Sejak saat itu kamu bertekad tidak akan pernah lagi membukakan pintu untuk siapapun, meskipun kamu selalu berharap dalam hati, suatu hari akan ada seseorang yang dapat meyakinkanmu untuk membuka pintu dan mempersilakan ia masuk. Menemani kamu hingga putih rambutmu dan kulitmu keriput.
Hatiku pilu mendengarnya…
Tahukah kamu… mengapa aku ingin mengenalmu?
Aku ingin tahu apa yang membuatmu resah, apa yang membuatmu gundah, apa yang membuatmu sedih… agar aku jangan sampai membuatmu menangis.
Aku ingin tahu apa yang membuatmu tersenyum, apa yang membuatmu tertawa, apa yang membuat matamu berbinar… agar aku bisa membuatmu bahagia.
Aku ingin menjadi orang yang kamu bukakan pintu dan persilakan masuk dalam rumahmu. Menemanimu setiap hari, setiap malam, bertukar cerita dan tertawa bahagia. Bukan hanya berbicara lewat celah pintu yang sedikit terbuka, terkait oleh grendel kunci rantai.
Kenapa aku bisa merasakan semua yang aku rasakan? Jujur, aku tidak tahu. Konon, katanya cinta tidak butuh alasan, dan kita tidak akan pernah tahu kapan dan dengan siapa kita akan jatuh cinta. Tapi kurasa, aku begini karena aku merasa bahagia setiap kali aku singgah ke rumahmu.
“Bukakan aku pintunya dan biarkan aku masuk menemani kamu..”, aku ingat tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulutku. Aku tahu kamu terkejut, karena aku bisa lihat air mukamu lewat celah pintu yang sedikit terbuka, terkait oleh grendel kunci rantai.
Kamu terdiam membisu. Matamu berkata bahwa kamu ingin membukakan pintu untukku, tapi raut wajahmu berkata lain. Aku tahu kamu ragu. Aku tahu kamu takut. Segala hal buruk yang mungkin terjadi terlintas cepat dalam pikiranmu.
“Jangan takut… aku tidak akan menyakiti kamu. Biarkan aku membawamu keluar rumah dan melihat indahnya dunia. Biarkan aku menemani kamu…”, aku berusaha meyakinkan kamu.
“Tapi aku belum mengenal kamu…”, katamu lirih.
Aku tahu kamu merasa belum mengenalku, bukan karena aku tidak pernah bercerita tentang diriku sendiri, tapi karena kamu menolak untuk mempercayai semua yang kuceritakan padamu dan memilih untuk mempercayai masa lalumu.
“Aku bisa membuat kamu bahagia… aku tahu kamu tahu itu.”, aku mencoba membuat kamu mengakui perasaan dalam diri kamu, perasaan yang sama yang juga aku rasakan.
“Aku bahagia setiap malam kamu singgah ke sini, aku senang bisa bertukar cerita dengan kamu… tapi aku perlu bukti bahwa kamu tidak akan menghancurkan rumahku kalau kamu masuk ke dalam!”, kamu akhirnya mengutarakan isi hati kamu.
“Bagaimana aku bisa membuktikan hal itu kalau aku tidak pernah masuk dalam rumah kamu?“, ujarku setengah tak sabar.
“Setiap malam kita bertukar cerita dan tertawa bersama… bukankah itu bukti bahwa aku dan kamu bisa saling membahagiakan satu sama lain? Tidak mungkin aku akan merusak hal yang bisa membuat aku bahagia, kan?”, sekali lagi aku berusaha meyakinkan kamu.
“Jangan paksa aku… Kamu harus membuktikan diri dulu, itupun aku tidak bisa janji apa-apa.  Bila kamu tidak mau, tidak apa-apa. Lebih baik kamu pergi dan tidak usah singgah lagi…”, kamu berkata dengan pelan sambil menatap mataku tajam.
Tahukah kamu… rasanya miris mendengar kalimat itu.
Apakah segala kisah dan tawa yang kita nikmati bersama setiap malam tidak berarti apapun buat kamu? Aku tidak habis pikir, mengapa kamu lebih memilih berdiam dalam sepi daripada membukakan pintu untukku? Kamu juga senang bila aku di sini menemani kamu, kan? Iya, kan?
“Baiklah, aku akan membuktikan diriku…”, akhirnya aku berkata. Bukan karena aku menyerah, tapi justru karena aku tidak ingin kehilangan dirimu, meskipun aku tahu aku tidak pernah memilikimu. Aneh, bagaimana mungkin kehilangan sesuatu yang tidak pernah dimiliki?
“Terserah kamu…”, itu kata-katamu yang terakhir sebelum kamu menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Aku mengetuk dan memanggil namamu, tapi kamu tidak menjawab.
Dengan menyesal aku pulang dan memikirkan kamu hingga pagi menjelang dan matahari mengintip di balik cakrawala, perlahan buyarkan hitamnya malam dan menggantinya dengan fajar yang ungu kebiruan.
Tahukah kamu… sejak itu, setiap hari aku singgah dan mengetuk pintu rumahmu. Tapi kamu tidak pernah menjawab. Aku mengetuk dan mengetuk… menunggu kamu di depan pintu, tapi suaramu pun tidak aku dengar lagi.
Bagaimana kamu bisa mengenalku dan meyakinkan dirimu sendiri, bila kamu saja tidak mau bertukar cerita lagi denganku? Apa yang harus kubuktikan bila kamu saja tidak mau melihatku lagi, meski hanya lewat celah pintu yang sedikit terbuka, terkait oleh grendel kunci rantai.
Bila aku berhenti mengetuk, aku tahu itu akan membuktikan bahwa aku tidak sungguh-sungguh ingin menemanimu. Tapi bila aku terus mengetuk, aku tahu kamu pasti akan membenciku. Tolong kamu beritahu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Mungkin aku terlalu memaksa. Mungkin aku tidak sabaran. Mungkin dengan begitu aku jadi mengingatkan kamu akan masa lalumu. Mungkin memang kebahagiaan yang aku pikir kamu rasakan ketika bersamaku adalah ilusi dan khayalanku belaka. Mungkin kamu memang lebih bahagia sendiri dalam sepi. Mungkin memang ini yang sebenarnya kamu inginkan…
Mungkin aku tidak akan pernah tahu kenapa…
Mungkin…
Tahukah kamu… setiap hari aku berjalan lewati rumahmu. Begitu seringnya, aku sampai ingat persis warna coklat kusam pintu rumahmu dan dindingnya yang keabuan.
Tahukah kamu… kalau kamu sudah siap, kamu bisa membuka pintu dan memanggilku untuk singgah lagi. Mungkin nanti kamu mau membukakan pintu untukku. Mungkin…
Mau tidak mau, toh setiap hari aku memang harus lewat jalanan rusak di depan rumahmu itu.
******

Setiap orang pernah mengalami kisah di atas. Baik sebagai orang yang mengetuk maupun sebagai orang yang menutup pintu. Dengan membaca kisah ini, saya harap kita bisa saling mengerti bahwa kebahagiaan dalam hubungan cinta tidak bisa dipaksakan. Meskipun kebahagiaan itu sudah ada di depan mata, tapi hanya bisa diraih bila kedua pihak memang sama-sama menginginkannya dan saling berusaha.
 

Dikriminasi Peran Ayah dan Ibu

Diskriminasi Peran Ayah dan Ibu ini pernah saya bahas ditwitter, Silahkan follow twitter saya untuk berbagai macam pembahasan seperti ini. Ini hanya berupa compile-an yang ditwitter. Cekidot.

-Ada diskriminasi peran ayah dan ibu nih, Ada hari ibu tapi gak ada hari ayah di indonesia. Padahal kalo gak ada pria, gak ada wanita juga loh. Lebih tepatnya, tanpa pria, Wanita gak akan bisa jadi ibu. :)
-Adanya hari ibu tapi gak ada hari ayah, sama aja kayak pemujaan lebih ke sosok ibu daripada ayah. Padahal keduanya sama penting. Dan pemujaan yang berlebihan pada ibu ini mempengaruhi para pria memberi pemujaan kepada wanita secara umum, Ini yang membuat cowok (biasanya) jadi ngarep.
-Pria - pria indonesia memuja sosok ibu dan akhirnya memuja wanita, Ngarep akan sebuah sosok yang memanjakannya seperti ibu. Tapi yang pastinya, Setiap pria pasti pingin dong punta pasangan yang seperti ibunya. :)
-Sejarah pemujaan ibu ini uda bukan lagi sih hal yang aneh dan pastinya punya alasan yang kuat kenapa bisa begitu.
-Seperti Umat katolik yang berdoa pada Bunda Maria, sosok ibu Yesus yang dipercaya bisa mengabulkan doa.
-Gak ada yang bilang salah kok kalo memuja ibu. Para ibu (memang) berhak menerima penghormatan kayak gitu.
-I love my mom with all my heart, Even we may have some arguments and debates sometimes :)
-Tapi di era modern dimana wanita (kebanyakan) lebih milih mengejar karir dibanding menjadi ibu. Pemujaan ini terasa ironis.
-Secara gak sadar, Kita jadi anggap seorang ibu itu lebih mulia daripada seorang ayah. Padahal keduanya sama
-Secara gak sadar, Kita (kebanyakan) jadi lebih menganggap wanita itu lebih tinggi dari pria.
-Ini terbukti dari berbagai fenomena romansa yang terjadi disekeliling atau yang kamu alami sendiri.
-Lagi - lagi kebanyakan, dalam urusan cinta, pria berusaha MENDAPATKAN/MEMENANGKAN hati wanita dengan cara traktir -traktir, puja - puji , perhatian,dsb
-Uda ngelakuin segala usaha dan pembuktian diri, Wanita hanya tinggal duduk manis ditembak doang ;)
-Mau PDKT, Pria yang telpon buat ngajak date. Pas date, dijemputin en dibayarin. Wanita cuma cukup senyum manis.
-Kenapa pria lakuin hal tsb ? Karena pria (secara gak sadar) menganggap bahwa wanita LEBIH TINGGI darinya sehingga harus membuktikan diri.
-Katanya emansipasi, tapi kok ada perbedaan sikap pria dan wanita dalam romansa ?
-Pria harus mati - matian untuk buat cewek bilang "Iya, aku mau jadi pacar kamu.." Kodrat kah ?
-Seharusnya ini dinilai dari perbedaan peran, hak dan kewajiban. BUKAN pada perbedaan derajat atau harkat martabat
-Semua manusia, baik wanita maupun pria sama nilainya. Sama derajatnya. Karena itu, ibu tidak lebih tinggi dari ayah
-Yang namanya perbedaan antara wanita dan pria ya karena dari bermacam fisik dan psikologis, Bukan karena beda derajat.
-"Kan wanita yang mengandung dan melahirkan." | Itu memang fungsi biologis dan BUKAN berarti jadi lebih tinggi dari pria kan ?
-I love my mom karena beliau lakuin kewajibannya sebagai seorang mama yang luar biasa, Bukan karena derajatnya lebih tinggi.
-Ketika uda mulai membedakan harkat dan martabat, Pasti bakal terjadi diskriminasi. Efeknya bakal mengerikan.
-Kenapa cewek bakal dianggap murahan kalo nembak cowok ? itu sama aja kayak bos butuh pengakuan (validasi) dari anak buahnya
-Padahal sebenarnya tidak begitu, Tiada yang salah dari cewek nembak cowok. Emansipasi kan ? ;)
-Cowok suka, kejar, langsung nembak. Cewek suka, mau nunggu ditembak (terkadang sampai jual mahal) karena gengsi, Yang rugi siapa ?
-Ini lah yang saya maksud budaya yang tertanam di pikiran kita tanpa sadar. :)

November 25, 2012

Tipe Cowok

Tipe Cowok
(Via HonjiMilagro)

Ladies, Ada yang lagi di PDKTin cowo ? Setiap cewek pasti pasti pernah di PDKTin cowok.
Dan sebenarnya ada beberapa jenis tipe cowok dibedakan dari tujuannya PDKT loh.
1. PDKT cuma buat seks
Sorry to say, tapi banyak cowok yang begini. Miris juga sih. Susahnya jadi cewek cantik en seksi ya gini. Sering dapat PDKT dari tipe cowok ini, Cuma pengen toket sama vagina-nya aja.
Tipe cowok kayak gini biasanya ngambek kalo gak dapat seks, dapat sekali kabur, dan atau hanya seks mulu setiap ketemu. Nah, kalo kamu ketemu tipe cowok PDKT buat seks doang, balik ke kamunya. Kalo fine, yaudah ladenin aja.
2. Tipe cowok matre
Jangan salah, cowok juga banyak yang matre, Cuma ngincer fasilitas dari si cewek. Cowok seperti ini, Biasanya apa2 minta dibeliin/dibayarin. Apalagi finansial si cewek terlihat lebih baik.
Ini kurang sehat sih actually. Pikir baik2 aja kalo cowok yang PDKT kamu udah terlihat matre dari awal.
3. PDKT cuma buat pemuas ego
Cewek cakep en seksi di PDKT cuma buat muasin egonya, bahwa dia bisa dapatin itu cewek.
4. Tipe PDKT yang jadiin pacar (beneran)
Ini tipe PDKT yang tujuannya benar buat jadiin si cewek pacar/kekasih/partner. Kamu cukup beruntung kalo di PDKT sama tipe ini. Cirinya ? Ya dia gak cuma manfaatin badan or duit cewek doang. Simpel kok. Cewek biasanya lebih peka dalam hal ini.
Nah,udah ada 4 tipe cowok dengan tujuan yang berbeda2. Lagi di PDKTin cowok yang manakah kamu ? Be wise , Ladies (:
 

Kepolosan Anak - Anak

Ketika membaca judul dari post ini, apa yang terlintas di kepala kamu ? Kali ini gue ingin kamu merenungkan hal2 yang dibahas kali ini. Pastikan kamu lagi dalam keadaan santai :)

Taukah kamu bahwa sosialisasi kita (Terutama orang dewasa) ini terdiri dari banyak topeng2 kebohongan, kenaifan, kemunafikan, dan lain-lain. Dan kita pun pasti tersadar akan hal ini. Namun ada suatu sosialisasi tanpa topeng2 tersebut. Sosialisasi tersebut adalah  Sosialisasi dari kepolosan anak-anak.
Main2 sama anak umur 7 tahun itu menyenangkan, polos dan gak ada kemunafikan. Suka ya bilang suka, Nggak ya bilang nggak, Mau ya bilang mau. Alasan mereka gak ada yang dibuat2, lugas dan sederhana. Seperti berantem rebutan sesuatu terus marahan, sepuluh menit kemudian mereka saling memaafkan dan melupakan kejadian. Gak ada unsur kepura2an hanya buat nyenengin orang, semua apa adanya.

"I think we should learn from them."
Gue berpikir kita memang harus belajar dari mereka, dimana perasaan mereka tulus dan tidak dipenuhi pikiran negatif. Memberikan kebahagiaan, keceriaan tanpa berharap orang akan membalas mereka dengan hal yang sama atau lebih.
Tapi yah, anak kecil hanyalah anak kecil. Kepolosan mereka sering dianggap sepele hanya karena mereka dianggap tidak lebih pintar dari orang dewasa. Tapi gue malah berpikir kepolosan ini (mungkin) tidak akan berkembang sampai mereka dewasa. Kenapa ? Karena banyak anak2 sekarang yang dipaksa dewasa sebelum waktunya, karena tuntutan keadaan atau keegoisan orang tua. Anak atau remaja yang harusnya menikmati masa2 mereka, dipaksa untuk bertindak beberapa tahap diatas usia mereka. Kebebasan yang hilang, kreatifitas yang terbelenggu, keinginan yang terbatasi, pergaulan yang hanya diwujudkan dalam mimpi.

Inspired from:
@AimeeStarry

Ciri-Ciri Friendzone

1. PDKT yang lama tetapi hanya via socmed (Sms,Chat,Twitter). Nggak pernah ada kegiatan bersama.
Kamu pikir hanya dengan sms non-stop berbulan2 dengan gebetan sudah cukup membuat hubungan mendalam ? Coba pikir lagi, Itu (mungkin) hanya ke-GeeR-an kamu ! Karena mungkin dia hanya butuh teman ngobrol doang. Don't waste your time.
2. Dia kecanduan curhat ke kamu SOAL orang lain yang dia suka en kamu (mungkin) kasi dia tips agar jadian/gagal jadian
3. Dia gemar NYEPIK kamu, tetapi nggak ada kelanjutan.
Hal ini membuat kamu terus berpikir bahwa 'SEDIKIT LAGI' kamu bisa mendapatkan dia. Pemikiran 'sedikit lagi' ini akan selalu berakhir dengan hasil yang mengecewakan karena nihil ! dan Anehnya, kamu bakal susah banget buat mundur karena banyak hal disekitar yang bakal mendorong kamu untuk berpikir sedikit lagi